Seorang pemuka agama sebut saja Pak Agus, dengan langkah tegap dan cepat sambil membawa sebilah kapak yang tajam bergegas menuju ke pohon tua yang ada di dekat makam tua. Tujuannya cuma satu yaitu menebang pohon tua yang menjadi sumber kemusyrikan di desa Sukorejo. Tidak ada seorangpun didesa itu yang tahu berapa umur pohon tua yang rimbun dan terlihat angker itu, yang jelas setiap malam, apalagi malam jum'at legi, selalu ada saja orang yang bersemedi, membawa sesajen atau nglakoni di bawah pohon tua itu.
Sesampainya pak Agus di bawah pohon tua, sambil berteriak-teriak mengusir orang-orang yang ada disitu, bersiap-siap mengacungkan kampak untuk memulai niatnya memotong pohon tua itu. Namun tanpa disangka-sangka dihadapannya muncul seorang tua yang mengaku sebagai juru kunci dan melarang pemuka agama itu untuk menebang pohon. Terjadilah percekcokan yang seru dan seperti dapat di duga dua orang dengan kepentingan berbeda itu saling memukul, menendang dan menyerang. Namun rupanya juru kunci kurang lincah sehingga terdesak dan mengakui kehebatan pak Agus. Di saat kritis itulah juru kunci menawarkan perdamaian, "pak Agus, tolong bapak jangan menebang pohon tua ini, setiap pagi saya akan mengirimkan uang Rp. 1 juta di depan pintu rumah bapak, tolong pak jangan di tebang" begitu kata juru kunci sambil menyembah-nyembah pak Agus. Diperlakukan dan dijanjikan demikian pak Agus mengurungkan niatnya, sambil berkata keras "awas, kalau kau tipu saya".
Keesokan harinya pak Agus membuka pintu rumah dan menemukan ada bungkusan yang berisi uang Rp. 1 juta di depan pintu, pak Agus senang. Esok paginya demikian juga, ada bungkusan berisi Rp. 1 juta di depan pintu. Hari ketiga pak Agus mendapatkan lagi bungkusan berisi uang Rp. 1 juta, hati pak Agus sangat senang dan gembira. Setelah tiga hari berturut-turut dapat uang sebesar Rp. 1 juta, hari keempat pak Agus tidak menemukan bungkusan di depat pintu "ah... mungkin juru kunci lupa" demikian pikirnya, hari kelima juga tidak menemukan bungkusan lagi, mulailah pak Agus marah, dia merasa dipermainkan. Maka dengan langkah tegap dan cepat sambil membawa kapak, pak Agus bertekat bulat untuk menebang pohon tua itu.
Sesampai pak Agus di bawah pohon tua, lagi-lagi juru kunci menghadang dan melarang pak Agus menebang pohon tua tersebut. Maka terjadilah perkelahian yang sengit antara pak Agus dan juru kunci pohon keramat. Tetapi kali ini situasi berbalik, juru kunci dapat dengan mudah mengalahkan pak Agus, bahkan boleh dikata pak Agus menjadi bulan-bulanan si juru kunci. Pak Agus pulang dengan rasa sakit di hati dan sekujur tubuhnya karena telah dikalahkan si juru kunci.
KEMENANGAN PAK AGUS PADA PERKELAHIAN PERTAMA DISEBABKAN TUJUAN PAK AGUS YANG MURNI UNTUK KEPENTINGAN YANG BAIK DAN DEMI KEPENTINGAN ORANG BANYAK.
KEKALAHAN PAK AGUS PADA PERKELAHIAN KEDUA DISEBABKAN TUJUAN PAK AGUS UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI YAITU MENDAPATKAN Rp. 1 JUTA / HARI. PAK AGUS MELUPAKAN TUJUAN UTAMANYA YAITU UNTUK MENGHILANGKAN KEMUSYRIKAN DI DESANYA.
BAGAIMAN KOMENTAR ANDA.....????
Sesampainya pak Agus di bawah pohon tua, sambil berteriak-teriak mengusir orang-orang yang ada disitu, bersiap-siap mengacungkan kampak untuk memulai niatnya memotong pohon tua itu. Namun tanpa disangka-sangka dihadapannya muncul seorang tua yang mengaku sebagai juru kunci dan melarang pemuka agama itu untuk menebang pohon. Terjadilah percekcokan yang seru dan seperti dapat di duga dua orang dengan kepentingan berbeda itu saling memukul, menendang dan menyerang. Namun rupanya juru kunci kurang lincah sehingga terdesak dan mengakui kehebatan pak Agus. Di saat kritis itulah juru kunci menawarkan perdamaian, "pak Agus, tolong bapak jangan menebang pohon tua ini, setiap pagi saya akan mengirimkan uang Rp. 1 juta di depan pintu rumah bapak, tolong pak jangan di tebang" begitu kata juru kunci sambil menyembah-nyembah pak Agus. Diperlakukan dan dijanjikan demikian pak Agus mengurungkan niatnya, sambil berkata keras "awas, kalau kau tipu saya".
Keesokan harinya pak Agus membuka pintu rumah dan menemukan ada bungkusan yang berisi uang Rp. 1 juta di depan pintu, pak Agus senang. Esok paginya demikian juga, ada bungkusan berisi Rp. 1 juta di depan pintu. Hari ketiga pak Agus mendapatkan lagi bungkusan berisi uang Rp. 1 juta, hati pak Agus sangat senang dan gembira. Setelah tiga hari berturut-turut dapat uang sebesar Rp. 1 juta, hari keempat pak Agus tidak menemukan bungkusan di depat pintu "ah... mungkin juru kunci lupa" demikian pikirnya, hari kelima juga tidak menemukan bungkusan lagi, mulailah pak Agus marah, dia merasa dipermainkan. Maka dengan langkah tegap dan cepat sambil membawa kapak, pak Agus bertekat bulat untuk menebang pohon tua itu.
Sesampai pak Agus di bawah pohon tua, lagi-lagi juru kunci menghadang dan melarang pak Agus menebang pohon tua tersebut. Maka terjadilah perkelahian yang sengit antara pak Agus dan juru kunci pohon keramat. Tetapi kali ini situasi berbalik, juru kunci dapat dengan mudah mengalahkan pak Agus, bahkan boleh dikata pak Agus menjadi bulan-bulanan si juru kunci. Pak Agus pulang dengan rasa sakit di hati dan sekujur tubuhnya karena telah dikalahkan si juru kunci.
KEMENANGAN PAK AGUS PADA PERKELAHIAN PERTAMA DISEBABKAN TUJUAN PAK AGUS YANG MURNI UNTUK KEPENTINGAN YANG BAIK DAN DEMI KEPENTINGAN ORANG BANYAK.
KEKALAHAN PAK AGUS PADA PERKELAHIAN KEDUA DISEBABKAN TUJUAN PAK AGUS UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI YAITU MENDAPATKAN Rp. 1 JUTA / HARI. PAK AGUS MELUPAKAN TUJUAN UTAMANYA YAITU UNTUK MENGHILANGKAN KEMUSYRIKAN DI DESANYA.



Kunjungan pertama salam kenal yaa, semoga bisa menjadi sahabat :-)
BalasHapus